Dear Sobat,
Sekian episode perjalanan telah mengiringi kita, terkadang memaksa kita untuk pandai-pandai bermain dengan perasaan, hati dan pemikiran. Dan, adalah wajar jika di suatu saat kita memerlukan teman untuk sekedar sharing, berbagi kisah dan mengutarakan isi hati kita, itu manusiawi. Meski kadang dengan sharing saja permasalahan kita tidak berubah atau terselesaikan, namun paling tidak hati menjadi sedikit terhibur. Kenapa ? karena kita merasakan adanya perhatian dari orang lain di sekitar kita. Bahwa kita tidak memikul beban ini sendiri, bahwa ada yang kondisinya lebih buruk dari yang kita alami.
Dengan berbagi cerita pun kita tidak menjadi miskin, bahkan literatur kita lebih bertambah, sehingga manakala kita dihadapkan pada kasus yang hampir mirip, maka kita bisa meresponnya secara lebih baik. Selama sharing itu bermanfaat, dan kita mampu menarik benang merahnya secara bijaksana.
Beberapa waktu yg lalu ada beberapa teman yang mengeluhkan tentang kondisinya. Pun demikian juga denganku, pernah juga berkeluh kesah sedemikian hebat. Bahkan rasanya cukup pantas (waktu itu) jika harus melayangkan surat protes kepada Tuhan atas keadaan yang harus kita alami. Ini tidak adil, kejam, dan sebagainya. Seolah seisi alam sudah tidak mau memihak kita lagi.
Seiring waktu, kita belajar berpendapat, dari subyektif ke arah obyektif, dari menghujat jadi belajar mengambil hikmah, dan seterusnya.
Kita semua terlahir sama, tanpa memesan terlebih dulu pola fisik yang akan kita tempati, dari rahim siapa, dalam kondisi ekonomi yang bagaimana, maupun pilihan-pilihan lainnya.
Itu semua adalah ketentuan yang maknanya harus kita cari. Mungkin banyak yang menyesal dilahirkan dalam keluarga miskin, atau banyak pula yang meratapi ketika dilahirkan dalam keluarga yang kurang bahagia. Sikap ini bukanlah pilihan yang bagus, menyesali keadaan kita.
Mari berkilas balik
Bahwa kita semua adalah pemenang, karena dari sekian juta benih yang yang terpancar, hanya satu benih yang berhasil menyemai sel telur sang ibu (ibu kita), dan itu adalah cikal bakal kita saat ini.
Setelah terbungkus secara aman di dalam rahim selama sekitar 9 bulan, lahirlah kita, menangis keras menyambut sapaan udara dunia yang baru. Setelah sekian waktu kita belajar tanpa pernah lelah, akhirnya kita berhasil berjalan, bicara, dan merasakan segala sesuatu di sekeliling kita. Dibekali dengan cinta dan air mata.
Mungkin ada di antara kita yang sekelumit masih bisa mengingat kesenangan saat usia 5 tahun dulu, atau bahkan kilasan-kilasan peristiwa ketika berusia 3 tahun. Bukankah waktu terasa sedemikian cepat bergulir, dan segalanya terasa sedemikian cepat berubah.
Setelah sekian tahun berkecimpung dengan lingkungan sekitar, berjalan dengan beberapa kaidah dan norma-norma yang tertanam dari orang tua dan masyarakat, kemudian mempelajari berbagai keilmuan, jadilah kita saat ini.
Memasuki kedewasaan, setiap orang dihadapkan dengan peluang dan resiko yang beragam. Jika melakukan A maka hasilnya adalah B, jika ingin X, lakukanlah Y, jika tidak ingin C, jangan melakukan D, dan seterusnya.
Ketika masalah demi masalah menerpa kita hingga sedemikian berat, janganlah pernah berputus asa … jangan pernah. Don’t give up … !
Selama ini kita terlalu fokus pada hal-hal yang sedemikian rumit, banyak, yang sebenarnya justru menguras energi padahal esensinya adalah bukan apa-apa. Sampai-sampai lupa memperhatikan hal lain yang lebih vital buat kita.
Ambillah contoh : beberapa kasus siswa-siswi yang menjadi stress berat ketika tidak lulus ujian, mahasiswa yang gagal kuliah, atau seseorang yang tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan, seorang bapak yang tidak mampu membayar biaya persalinan anaknya, dan sebagainya. Malah, tidak sedikit yang melakukan bunuh diri (comment : sungguh, bunuh diri adalah tindakan paling konyol). Stress yang berkepanjangan didukung oleh keadaan ekonomi yg semakin memburuk.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan ?
Sebentar, marilah kita cuci muka / berwudhu sejenak untuk sekedar menyejukkan kepala, berdo’alah semoga kita dikarunia hikmah dan kebijaksanaan. Setelah itu, masuklah ke kamar lalu bercerminlah sejenak.
Pandanglah sosok itu, sosok yang anda kenali beribu-ribu jam. Tenangkan hati dan cermatilah fisik yang anda secara pelan. “Bicaralah” dari hati ke hati dengannya (diri kita sendiri).
Mungkin cerminan itu kini telah berubah menjadi seseorang yang anda benci, atau anda sesali … anda salah. Karena dia hanyalah wadah yang dititipkan. Dia tidak tahu apa-apa, karena yang bergerak adalah apa yang didalamnya, yang tidak terdeteksi oleh alat secanggih apapun, yaitu ruh anda.
Sejenak, kenanglah kembali ketika kita masih kecil, dimana anda masih cukup waktu untuk menyempatkan diri mengamati keindahan tanaman, mengenali permainan-permainan yang menyenangkan, berteman dengan beberapa rekan-rekan kecil anda, ketika anda bisa tertawa geli tanpa beban pikiran, dan riang-canda yang lain.
Lalu, susun kembali serpihan-serpihan perjalanan masa lalu itu, ingatlah lagi akan prestasi ataupun kenakalan-kenakalan yang pernah anda lakukan. Sampai di sini, anda akan sependapat jika masa lalu tetaplah bermanfaat, dan tidak harus dilupakan.
Lihat kembali sosok yang kini hadir pada cermin di depan anda. Betapa si kecil yang dulu lucu, telah berubah menjadi anda yang sekarang ini. Bahwa penampilanpun kini berubah, cara bicara, sikap, dan pola kehidupan kita pun sama, ikut berubah.
Modal yang dititipkan kepada kita berupa fisik dan ruh ini telah melampaui sekian rentang waktu kehidupan, diwarnai oleh berjuta pengalaman.
Maka, jika ada yang salah dalam perjalanan hidup ini, pun pasti ada sebabnya. Jadi, tariklah lagi benang merah menyusuri masa lalu anda, apa yang salah.
Hidup ini pilihan, sepenuhnya betul.
Memilih saja tidak cukup, kita harus mewujudkannya menjadi sebuah tindakan nyata. Itulah keberanian untuk beraktualisasi dari dasar kemauan.
Sekarang, keluarlah sejenak dari kungkungan sekitar anda. Keluarlah dari ruangan yang kini mulai terasa menyesakkan. Cari tempat yang lapang, dan lihatlah ke atas. Jangan memejamkan mata, pandangilah langit. Seluas apakah yang mampu tertangkap oleh penglihatan anda. Bandingkanlah keluasan langit dengan diri anda, maka sebesar itulah perbandingan atas permasalah yang anda hadapi sekarang dengan nilai diri anda.
Perhatikanlah relung-relung keindahan awan atau bintang kala malam hari yang selama ini belum pernah anda cermati secara serius. Maka, syukurilah bahwa ternyata anda dikelilingi oleh sedemikian banyak keindahan yang seringkali terabaikan.
Jika saja anda gagal menghadapi ujian, maka dunia tetap taat menjalani siklus rutinnya, dia tidak terpengaruh oleh kegagalan anda. Air di sungai pun masih tetap setia mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan langitpun tidak serta merta berduka melihat anda gagal. Seolah mereka senantiasa setia untuk menghibur anda dan berkata, lihatlah kami, cermatilah kami, jangan musnahkan hati dan akalmu ketika gagal menghadapi suatu cobaan.
Kegagalan yang terjadi sekarang, bilamana sebelumnya anda telah berjuang keras untuk mencegahnya, maka itu bukanlah kegagalan, tapi pembelajaran baru.
Jika anda gagal karena memang anda tidak pernah memperjuangkannya, maka bersikaplah gentle, itu adalah konsekuensi.
Anda berani mengambil resiko dengan mengabaikannya, maka justru ajaib atau ada yang salah, jika tidak gagal. Itu hal yang logis, yang berarti anda pun mempersiapkan diri dan “meng-ACC” untuk menerima kegagalan.
Setelah kegagalan itu terjadi …
Jika pada saat itu anda masih bisa menghirup nafas (sooo… jangan bunuh diri), maka jawabannya adalah : buannnyak sekali (bahkan hampir tak terhingga). Bersyukurlah karena anda masih punya kesempatan. Bukan kesempatan yang telah lewat, tapi kesempatan untuk masih bisa mengkajinya. Jangan berpikiran sempit.
Sampai di sini, perlu sekali untuk menyentuh nilai-nilai spiritual anda, yaitu keyakinan / sisi keagamaan. Bahwa ada sesuatu yang sangat kuat yang terus menyertai dan mengamati kita. Sehingga jika kita peka, maka dalam kesendirianpun, kita masih bisa merasakan sebuah suasana kebersamaan, yang secara kontinyu terus mengingatkan, berbisik dan menjaga nurani kita agar tidak salah melangkah.
Masa lalu, dan masa depan anda saling terkait pada titik temu yang bernama : saat ini. Pada saat ini, terdapat pintu-pintu ke masa depan dengan anak kunci yang tepat dihadapan kita.
Pintu mana yang akan kita buka, pintu mana yang akan kita tutup, maka keputusan anda-lah untuk menentukan arah putarnya masing-masing anak kunci itu. Dan keputusan anda tidak boleh asal-asalan, kaji dan cermati setiap peluang dan keputusan yang akan anda ambil. Di sinilah, masa lalu (baca : pengalaman) anda sangat berguna.
Itulah kenapa, kita tidak boleh pelit dalam berbagi ilmu, karena semakin sering kita berbagi, semakin dalam pula kita menguasainya.
Dan karena itu pula, mengapa setiap perkataan kita haruslah bermanfaat, jangan sekedar mengobral hal-hal yang (istilah saya : ) buang-buang umur alias tidak berguna. Pilih teman dan lingkungan sebaik mungkin. Jika terpaksa, berpindahlah ke lingkungan yang lebih baik.
Kita hidup dibekali dengan property yang sangat hebat, yaitu akal, hati nurani, perasaan, fisik yang bagus, dan … kesempatan !
Jika kita merasa miskin secara ekonomi, belajarlah bersyukur bahwa kita masih sehat. Jika kita sedang tidak sehat, bersyukurlah karena kita masih diberi akal, dan fikiran yang baik. Kebayang nggak kalau nggak berakal ? Jika kita sudah tidak punya apa-apa, bersyukurlah karena kita masih punya : waktu. Karena segala amalan dan dosa kita masih bisa dibenahi ataupun diampuni selama kita masih hidup.
Namun ini semua bukan berarti kita tidak boleh berpacu untuk mengejar kemapanan. Jadilah pandai, jadilah kaya, jadilah orang yang berfisik sehat, dan jadilah orang yang perpengaruh, selama motivasi kita baik. Karena dengan kelebihan yang kita miliki maka kesempatan untuk beramal dan membantu sesama lebih terbuka lebar.
Sekaya apapun kita, porsi makan yang kita butuhkan tidak lebih dari sepiring nasi untuk setiap kali makan. Renungkanlah bahwa kehidupan kita adalah kilasan-kilasan yang singkat, maka isilah kilasan itu secara bijak dan bermanfaat.
Apa yang anda miliki sekarang, terlalu berharga untuk disia-siakan.